Kop Website

  • Breaking News

    Aku yang Dibuang

    Aku yang Dibuang

    Oleh: Nisa Ulliza

    Makanan adalah bahan yang berasal dari tumbuhan maupun hewan yang dikonsumsi oleh makhluk hidup untuk mendapatkan tenaga dan nutrisi. Limbah adalah sisa dari hasil kegiatan individu maupun berkelompok yang tidak memiliki nilai. Sehingga, limbah makanan adalah makanan yang terbuang sehingga menjadi sampah. Limbah makanan menjadi persoalan bagi setiap negara.

     Menurut Organisasi Makanan dan Pertanian United Nation (FAO), food waste atau limbah makanan didefinikan sebagai makanan yang layak untuk dikonsumsi, namun konsumen tidak mengkonsumsinya hingga dibiarkan basi dan dibuang. Data dari FAO menyebutkan bahwa sepertiga makanan dari produksi makanan yang layak dikonsumsi atau setara dengan 1,3 triliun ton terbuang sia-sia setiap tahunnya.

    Secara tidak sadar, kita membuang makanan yang dapat dikonsumsi oleh tiga triliun orang. Hampir 800 juta orang per tahunnya mengalami kelaparan di seluruh dunia.  Limbah makanan bertentengan dengan bulir-bulir moral, begitulah yang dikatakan oleh Elizabeth Royte, seorang penulis sains di Amerika.

    Royte juga menulis, Jika limbah makanan adalah sebuah negara, maka negara ini akan menjadi produsen terbesar gas rumah kaca ketiga di dunia setelah Tiongkok dan Amerika Serikat. Food waste menyumbang 10 persen gas emisi yang dapat menyebabkan terjadinya efek rumah kaca dan menjadi faktor utama terhadap terjadinya penggundulan hutan dan penipisan sumber air di dunia. Dampak ekonomi dari pemborosan makanan sangat signifikan. FAO mengatakan bahwa kerugian limbah makanan bertambah sekitar US$680 milyar (9.792 triliun) di negara-negara industri.

    Betapa banyak makanan yang masih dalam kondisi baik tersia-siakan mulai dari hasil panen yang dibiarkan membusuk, sampai sayuran buruk rupa yang ditolak di toko-toko. Di Lembah Salinas, California, setiap tahun para petani membuang ribuan ton sayuran segar yang kurang memenuhi syarat untuk diangkut dalam perjalanan lintas negara menuju rak supermarket.

    Di negara berkembang, sebagian besar buah pascapanen lenyap akibat kekurangan fasilitas penyimpanan yang memadai, jalan yang bagus, dan alat pembeku. Indonesia menjadi negara kedua dalam menghasilkan limbah makanan terbanyak. Pola konsumsi masyarakat Indonesia yang masih berpusat pada banyaknya porsi makan menjadi faktor sampah menumpuk. Bukan hanya itu, kondisi wilayah Indonesia juga menjadi salah satu faktor terbuangnya makanan.

    Menurut Supply Chain Indonesia, Indonesia tidak memiliki tempat yang cukup memadai untuk menyimpan pasokan makanan. Akibatnya, banyak makanan harus tertahan saat di perjalanan sehingga membuat kualitasnya menjadi rusak sebelum sampai ke tangan konsumen.
    Sebagai perbandingan, negara maju membuang lebih banyak makanan saat ritel memesan, meyajikan, atau memajang terlalu banyak. Selain itu juga konsumen mengabaikan makanan yang ada di dalam kulkas dan membuang makanan yang cepat basi sebelum kadaluwarsa.

    Membuang makanan juga memberikan dampak buruk bagi lingkungan.
    Menghasilkan makanan yang tidak dikonsumsi sama halnya menyia-nyiakan air, pupuk, lahan, bibit, pupuk, dan bahan bakar yang dibutuhkan untuk menumbuhkan tanaman. Di seluruh dunia, produksi makanan yang terbuang dalam setahun menghabiskan air sebanyak alira Volga, sungai terbesar di Eropa.

    Jumlah yang mengejutkan ini belum mencakup dari peternakan dan kapal nelayan. Bumi adalah planet yang memiliki sumber daya terbatas, dengan ekspektasi penambahan penduduk sebanyak dua miliar pada tahun 2050, pemborosan makanan ini sungguh tidak senonoh.

    Sayuran dan buah-buahan yang punya tampilan jelek atau sudah layu menjadi sampah yang paling banyak dibuang. Sayuran dan buah-buahan buruk rupa dibuang karena masyarakat menganggap tidak bisa memenuhi standar estetika. Buah buruk rupa menyumbang sebesar 40 persen sampah yang terbuang pada tahun 2013.

    Tahun 2017 pejualan sayuran dan buah-buahan buruk rupa mulai mengalami peningkatan seiring adanya kesadaran akan food waste. Meski demikian, masih ada sayuran dan buah-buahan yang terbuang sia-sia karena penampilan.

    Tampilan yang tidak sempurna menjadi alasan terbesar yang membuat sayuran dan buah-buahan buruk rupa terbuang. Untungnya, pandangan terhadap sayuran dan buah-buahan yang tampilannya kurang sempurna telah banyak berubah. Meskipun tampilannya jelek, tetapi sayuran dan buah-buahan tersebut masih bisa dikonsumsi.

    Menurut nutrisionis Los Angeles, Rachel Beller, sayuran dan buah yang buruk rupa tetap mengandung gizi dan vitamin yang sama layaknya sayuran dan buah yang masih segar. Sebuah supermarket asal Perancis, intermarche, melakukan kampanye untuk mencegah pembuangan makanan. Kampanye ini diberi nama Inglorious Fruits and Vegetables. Intermache memberi diskon 30 persen untuk buah-buahan dan sayuran buruk rupa.

    Di wilayah Pidardy, Perancis, seorang relawan memungut hampir 500 kilogram kentangg yang terlalu kecil untuk dipanen menggunakan mesin. Tidak hanya kentang, wortel, terung, dan sayur mayur lainnya yang kurang memiliki nilai etestika juga dipungut. Para relawan yang bekerja sama dengan kelompok Feedback yang dinaungi oleh Stuart akan memasak semuanya menjadi hidangan lezat untuk 6.100 orang.

    Feedback telah membantu mengorganisir lebih dari 30 perjamuan umum di seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran mengenai pembuangan makanan dan menginspirasi masyarakat lokal. Sama halnya dengan Indonesia, Garda Pangan adalah kelompok relawan Surabaya yang memungut makanan berlebih atau makanan yang tidak habis dijual dan masih bisa dikonsumsi dan mengubahnya menjadi makanan yang menarik dan lezat untuk dimakan yang kemudian dibagikan kepada penduduk sekitar.

    Tujuan utama Garda Pangan ini ialah mewujudkan Indonesia bebas lapar lewat perindustrian makanan berlebih. Gerakan tersebut dapat mengurangi angka kelaparan yang ada di Indonesia maupun di seluruh dunia.

    Di Jawa Timur, sampah makanan dibawa ke pabrik untuk diolah menjadi pupuk kompos kemudian dibagikan kepada seluruh panduduk. Membentuk gerakan-gerakan kecil mengurangi pemborosan makanan atau membuang-buang makanan yang masih bisa dikonsumsi, dapat meningkatkan kesadaran kita untuk tidak membuang-buang makanan terutama buah-buahan dan sayuran yang memiliki nilai estetika yang rendah.

    Hal ini dikarenakan masih banyak penduduk yang kelaparan dan dapat memperbaiki moral kita sebagai manusia sosial untuk saling membantu. Mari!

    Penulis merupkan seorang pelajar SMAS Sukma Bangsa Pidie, memiliki hobi membaca dan menulis. nisaulliza@gmail.com.

    No comments